Bagaimana Al-Qur’an Memberikan Petunjuk?

Oleh: Riyadi Lubis, SQ, S. Pd (Kepala Kompartemen Pendidikan dan Pengembangan Yayasan MPM 1311)

AL-QUR’AN sebagai kitab suci yang diturunkan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw yang salah satunya berfungsi sebagai petunjuk atau pedoman hidup manusia. Hal ini terkandung di dalam firman Allah,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُم مَّوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَشِفَآءٞ لِّمَا فِي ٱلصُّدُورِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ  ٥٧

Terjemah: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.(QS. Yunus: 57)

Dalam Al-Qur’an kata petunjuk itu disebut dengan kata “hidayah”. Kata “hidayah” dengan berbagai bentuknya disebutkan sekitar 317 kali dalam Al-Qur’an. Pada dasarnya kata ini memberi arti memberitahukan kepada orang lain, memberikan bimbingan dan petunjuk kepada orang lain dengan santun dan lemah lembut demi mencapai suatu tujuan dan menghilangkan kebingungan.[1] Sedangkan menurut Abuddin Nata, Al-Qur’an sebagai petunjuk yaitu petunjuk bagi kerasulan Nabi Muhammad saw dalam mengemban risalahnya, pedoman hidup bagi manusia, menjadi ibadah bagi yang membacanya, serta pedoman dan sumber petunjuk dalam kehidupan.[2]

Oleh karenanya, seseorang yang senantiasa membaca, memahami dan mentadabburi Al-Qur’an dengan berbagai macam cara yang dilakukan, Al-Qur’an akan memberikan pedoman berupa jalan ketenangan dan kebenaran, dan inilah yang dinamakan petunjuk. Dan pedoman tersebut yang akan mengantarkan manusia kepada tujuan utama agama Islam, yaitu terwujudnya manusia beradab dan terciptanya kehidupan yang baik dan indah.

Menurut Sayyed Husein Nasr sebagaimana dikutip oleh Muhammad Chirzin, Al-Qur’an mempunyai tiga jenis petunjuk bagi manusia. Pertama, doktrin yang memberi pengetahuan tentang struktur kenyataan dan posisi manusia di dalamnya. Doktrin itu berisi petunjuk moral dan hukum yang menjadi petunjuk manusia. Kedua, petunjuk yang menyerupai ringkasan sejarah manusia, raja-raja, rakyat biasa, orang-orang suci, dan para Nabi yang menghadapi berbagai cobaan hidup. Ketiga, ia berisi sesuatu yang sulit dijelaskan dalam bahasa modern. Sesuatu tersebut disebut dalam istilah “magi” yang agung, bukan dalam arti harfiah, melainkan dalam arti metafisis.[3]

Secara kesimpulan, Al-Qur’an sebagai petunjuk berarti menunjukkan manusia dari jalan yang batil menuju jalan kebenaran. Yang sebelumnya manusia berada dalam kebodohan dan kekosongan rohaniyah keagamaan, menuju ke jalan manusia sesungguhnya dan jalan keagamaan menuju Tuhan. Dari zaman penderitaan yang menyiksa lahir dan batin, menuju kebahagiaan hakiki baik di dunia maupun akhirat. Beruntunglah orang yang disisinya dipeluk petunjuk Al-Qur’an.


[1] Ahsin Sakho Muhammad, Keberkahan Al-Qur’an, (Jakarta: PT Qaf Media Kreativa, 2017) h. 24

[2] Abuddin Nata, Al-Qur’an dan Hadits, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2000), h. 57

[3] Muhammad Chirzin, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa, 1998), h. 4